#

Pengabdian Tambang Minyak Tradisional Masih Menyimpan Seribu Harapan

By: adminberita 2018-09-21 131

Agus dwi Korawan adalah seorang dosen Sekolah Tinggi Teknologi Ronggolawe Cepu, blusukan ke lokasi tambang minyak tradisional desa Ledok kabupaten Blora, tapi kali ini dalam rangka Program Kemitraan Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Keberadaan sumur minyak tua ini tidak lepas dari jasa seorang Adriaan Stoop yang lahir di Dordrecht, Negeri Belanda pada 18 Oktober 1856, atas pengembaraannya mencari sumber minyak bumi antara tahun 1886 sampai dengan 1910. Al hasil, sumur minyak tua sekarang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat sekitar, hal ini terjadi karena sumur minyak tua yang sudah tidak produktif diserahkan kepada kelompok mayarakat sikitar untuk dikelola bersama.

Geliat penambang minyak sumur tua semakin nyata kelihatan tatkala berkunjung di pagi hari, deru mesin terdengar di kawasan ini karena menggunakan mesin diesel sebagai sumber energi untuk menimba minyak mentah, energi dari mesin diese ini diteruskan ke drum untuk menggulung tali sling, pada ujung tali sling terikat timbel yang keluar masuk kedalam sumur, pada ujung timbel terdapat katup yang akan membuka saat masuk kedalam sumur dan menyentuh dasar sumur dan tertutup secara otomatis saat diangkat. Dari kegiatan menimba minyak mentah yang dilakukan setiap hari, maka secara tidak disadari terjadi pengenalan teknologi, pengenalan teknik perawatan dan perbaikan, inspeksi harian, mingguan dan bulanan. Bahkan teramati juga mereka sudah mengerti teknologi perawatan dan perbaikan sumur minyak itu sendiri, mulai dari pembersihan sampah, perbaikan casing dsb.

Penguasaan ilmu pengetahuan secara otodidak sangat baik, tetapi proses ini memerlukan waktu yang lama, maka dari itu perlu ada sentuhan baru secara akademis untuk mempercepat penguasaan teknologi, dan menemukan solusi untuk mengatasi masalah lapangan berdasarkan analisa, untuk itulah kerjasama yang romantis antara masyarakat sekitar bersama pemerintah setempat dan perguruan tinggi sangat perlu untuk dilakukan untuk menyongsong kemandirian energi, yang ditopang oleh penguasaan teknologi.

Kenapa sumur banyak sampah, namanya saja sumur tua yang sudah berproduksi sejak jaman belanda, keberadaannya penuh kontroversi sejak belanda hengkang dari bumi pertiwi. Karena tidak ingin dikuasai oleh indonesia, maka sumur tua ditutup tanah dan semen sehingga sulit terlacak keberadaannya. Kalaupun ketemu, maka diperlukan usaha keras untuk mengaktifkan kembali karena biasanya banyak terjadi kerusaan casing sehingga tanah di sekitar masuk kedalam sumur. Karena miskin teknologi, maka proses eksplorasi dilakukan secara manual sehingga banyak material yang telah masuk kedalam sumur tidak bisa diangkat. Sering juga terjadi kecelakaan kerja, seperti terjatuhnya peralatan kedalam sumur, sehingga menambah jumlah sampah didalam sumur tsb.

Proses pendampingan dimulai dengan diskusi dengan mitra untuk menentukan rencana kerja, langkah berikutnya adalah menyiapkan peralatan yang digunakan untuk mengambil sampah, yaitu mesin pesawat angkat, tangga pada menara, katrol, lier, sling, timbel dan sagaran, dan berbagai macam kromol. Mesin yang digunakan merupakan truk bekas yang sudah dimodifikasi pada roda belakangnya, dimana salah satu roda belakang digunakan sebagai penggulung sling, ujung sling satunya dihubungkan dengan timbel, dan timbel dimasukkan kedalam sumur. Pada saat posisi persneling jalan maka sling akan tergulung dan timbel akan naik dari dasar sumur, pada posisi persneling bebas maka timbel akan turun ke dalam sumur. Mekanisme inilah yang akan digunakan untuk mengambil sampah dari dasar sumur.

Tangga pada menara digunakan sebagai alat bantu untuk memanjat menara, untuk memasang katrol pada puncak menara, tangga terbuat dari pipa bekas yang berasal dari pertamina, awalnya dibuat oleh kelompok dengan swadaya, dan kelompok inilah yang mempunyai hak selamanya untuk mengelola sumur tua. Menara berkaki tiga, masing- masing kaki tertanam ke tanah, ujungnya bertemu pada satu titik. Pada ujung menara dipasang katrol sebagai alat bantu untuk mengangkat beban berat agar menjadi lebih ringan, hal ini diperlukan karena sampah di dalam sumur sudah puluhan tahun, biasanya sudah tertimbun lumpur sehingga menjadi berat untuk diangkat.

Tali sling merupakan anyaman kawat baja, sangat kuat meskipun lentur seperti tali, karena lentur maka sling bisa digulung dengan mudah. Di pasaran tersedia berbagai ukuran sesuai dengan kekuatannya. Mitra biasanya menggunakan sling dengan ukuran kecil untuk menimba minyak dari dalam sumur, sedang ukuran besar digunakan untuk proses perawatan dan perbaikan. Sagaran berupa pipa panjang, pada ujung atas terdapat fasilitas untuk memasang sling sehingga tidak mudah lepas, pada bagian bawah terdapat ulir sebagai tempat sambungan dengan kromol, mekanisme sambungan berupa ulir akan memudahkan bongkar pasang ketika diperlukan model kromol yang lain, sehingga kromol bisa diganti ganti sesuai dengan kebutuhan dengan cepat.

Kromol merupakan bagian paling bawah dari peralatan yang digunakan untuk membersihkan sampah, selain untuk mengait berbagai sampah yang ada di dalam sumur, juga bisa digunakan untuk menghancurkan sampah. Pada dasarnya kromol berbentuk seperti anak panah atau kait, kromol ini dibuat sendiri dengan coba-coba. Perlu diperhatikan bahwa kromol harus menjamin hanya mengait sampah saja, tidak boleh sampai mengait casing, kalau ini terjadi maka akibatnya fatal, kromol tidak bisa diambil malah menjadi bencana baru di dalam sumur. Maka dari itu kromol ini diberi “kurung” atau pengaman.

Bentuk lain dari kromol berupa linggis berulir, ini digunakan untuk melebarkan ujung pipa (casing) sumur yang mengganggu keluar masukkan timbel, juga digunakan untuk menghancurkan endapan di dasar sumur, sehingga endapan bisa ditimba menggunakan timbel. Bila ingin mengetahui bentuk sampah yang ada di dasar sumur, maka digunakan mal, mal ini terbuat dari bahan yang lunak, pada kasus ini menggunakan bonggol pisang yang dibentuk. Mal dipasang di bagian ujung sagaran, kemudian diturunkan sampai menyentuh dasar sumur, sampai menyentuk sampah yang ada di dasar sumur, selanjutnya diangkat dan dilihat bekas yang ditimbulkan pada mal.

Sampah yang berhasil diangkat berupa tali sling, lumpur, dan batang pipa. Tali sling yang sudah terangkat dalam bentuk potongan-potongan pendek, hal ini terjadi karena tali sling sudah mengalami korosi sehingga ketika diangkat menjadi putus. Untuk mengangkat lumpur yang sudah mengeras didasar sumur, maka dihancurkan dulu menggunakan kromol berbentuk linggis, setelah lumpur hancur dan bercampur dengan minyak mentah, maka dilakukan penimbaan sehingga lumpur dan minyak metah terangkat secara bersamaan. Batang pipa juga bisa diangkat dari dasar sumur, prosesnya memang cukup lama, diawali dengan identifikasi dengan mal, setelah tau bentuk dan posisinya, maka dibuatkan kromol khusus yang bisa ngengait pipa tersebut.

Setelah kegiatan dilakukan beberapa minggu, maka kegiatan ini mampu memperdalam sumur sekitar 15 meter, pengukuran ini berdasarkan pada panjang sling yang digunakan sehari hari, dimana panjang sling yang bisa masuk kedalam sumur menjadi semakin panjang. Akibatnya, hasil minyak mentah juga naik, biasanya sekitar 1.500 kg minyak mentah tiap bulan, sekarang naik menjadi sekitar 1.700 kg setiap bulan.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat. Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Sesuai dengan Surat Perjanjian Penugasan Pelaksanaan Program Penelitian Nomor: 001/K6/KM/SP2H/PPM/2018, tanggal 19 Februari 2018.

Download File Repository